Sukses

Peneliti: Menelusuri Proses Quick Count Bukan Hal Misterius

Liputan6.com, Jakarta - Proses quick count atau hitung cepat yang dilakukan lembaga survei pada Pilpres 9 Juli lalu, dinilai sebuah teknik sederhana. Maka itu sangat mudah menelusurinya, bukan hal misterius.

Peneliti Prisma Resource Center Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Daniel Dhakidae mengatakan, yang membedakan hanya kualitas sampel dan metodologi masing-masing lembaga. Setiap lembaga tentu memiliki basis data.

"Dan kualitas dari hasil hitung cepat itu ditentukan oleh metodologi, sampel, dan etika masing-masing lembaganya," kata Daniel di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (17/7/2014).

"Jadi sudah pasti sangat mudah, dan tidak ada yang misterius," sambung dia.

Yang terpenting, kata Daniel, setiap lembaga survei harus menjadi bagian informasi tetap kepada masyarakat. Etika ilmiah dari proses survei harus dapat dipertanggungjawabkan di depan asosiasi lembaga survei.

"Semua lembaga yang melakukan hitung cepat harus bekerja dengan penguasaan dan penggunaan metodologi yang tepat, sampel akurat, dan menjunjung etika keilmiahan," jelas Daniel.

Hitung cepat Pilpres 2014 menuai polemik, karena menunjukkan hasil berbeda-beda. Perhimpunan Survei dan Opini Publik (Persepi) pun mengaudit lembaga survei di bawah keanggotaannya.

Lembaga survei yang diaudit yakni Cyrus Network, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani Research Centre (SMRC), Indikator Politik, Poltracking, Jaringan Suara Indonesia (JSI), dan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis).

Baca juga:

LSI: Soal Quick Count Burhanuddin Tepat, Tapi...

LSI: Pelaporan Lembaga Survei Ancam Kebebasan Akademik

Alasan JSI dan Puskaptis Tak Penuhi Panggilan Persepi

(Sss)

Artikel Selanjutnya
Persepi: Jangan Ada Lagi Lembaga Survei Disalahgunakan
Artikel Selanjutnya
Peneliti: Lembaga Survei Tak Mau Diaudit Seharusnya Dipolisikan